MATA HATI

Wednesday, March 08, 2006

Agama Kontekstual

SAAT ini kondisi keberagamaan umat sangat memprihatinkan. Dalam memahami ajaran agama, umat beragama telah terjebak dalam bingkai formalisme ajaran. Ajaran-ajaran agama cenderung hanya dipahami pada aspek ritual-formalnya, sedangkan ajaran agama yang sangat prinsipil terkubur oleh hiruk-pikuknya ritualitas. Agama diposisikan sedemikian rupa di pucuk menara yang sangat tinggi sehingga agama tidak mampu melihat dan merasakan hampa-ran masalah kemanusiaan. Agama telah terdistorsi pada sisi ibadah ketuhanan (mahdhah) semata, sementara sisi sosial (mu’amalah) dari agama tersingkirkan.

Agama dipahami hanya sebatas urusan manusia dengan tuhannya. Ketakwaan seseorang tidak dilihat pada sejauh mana seseorang membela kemanusiaan, tapi hanya dilihat pada sejauh mana orang itu rajin melak-sanakan shalat, haji berkali-kali, puasa senin-kamis, dan seterusnya. Ukuran keshalehan di dalam masyarakat tidak dilihat pada keadilan sistem kemasya-rakatan, tapi hanya dilihat pada sejauh mana masyarakat berbondong-bondong meramaikan hari-hari besar agama.

Akibatnya, agama menjadi buta, bisu dan tuli. Agama tidak mampu berkomunikasi dengan sejarah kemanu-siaan. Agama menjadi tumpul bagi penyelesaian berbagai masalah yang muncul di tengah-tengah kemanusiaan. Kemiskinan, kebodohan, tirani dan penindasan, dan kesenjangan sosial tidak kunjung terentaskan tapi justru semakin menguat di tengah-tengah umat beragama. Agama, yang semestinya hadir di tengah-tengah kemanusiaan untuk menjadi problem solver terhadap berbagai masalah yang muncul, tapi yang terjadi adalah sebaliknya. Agama menjadi eksklusif dan umatnya pun menjadi sektarian. Tak pelak, agama justru menjadi pemicu tumbuhnya bibit-bibit permusuhan antarmanusia. Akhir-nya misi agung rahmatan li al-‘alamin dari agama yang didengung-dengungkan di tiap khutbah dan tabligh akbar menjadi slogan kosong.

Dalam konteks ini, melahirkan pemahaman keagamaan yang bermuara pada kemanusiaan menjadi keniscaya-an. Dimensi kemanusiaan yang tercera-but dalam doktrin keagamaan harus segera ditanamkan kembali. Ajaran dasar agama: keadilan, kemerdekaan, dan persamaan; harus segera diwujud-kan. Agama harus segera dihadirkan untuk memberikan pencerahan terhadap berbagai problem kemanusiaan. Agama harus dikembalikan posisinya di tengah-tengah sejarah kemanusiaan. Agama harus segera diterjemahkan untuk menjawab berbagai problematika kemanusiaan.*

0 Comments:

Post a Comment

<< Home