MATA HATI

Monday, March 26, 2007

Novel KALAM CINTA

Sekarang ini saya baru menyelesaikan sebuah novel “KALAM CINTA dari Tuhan.”

KALAM CINTA dari Tuhan, adalah novel yang saya tulis dengan tujuan membangkitkan semangat kepada generasi muda untuk terus berkreasi dan belajar. Saya menanamkan semangat Tauhid. Yaitu, pengagungan suci kepada Tuhan dengan cara berbuat baik kepada umat manusia tanpa memandang sekat-sekat yang ada.

Di sini, saya juga membongkar formalisme agama. Bahwasanya sikap wasath (moderat) itu amat penting. Boleh memakai baju, tapi yang sederhana dan jangan diagung-agungkan. Termasuk juga masalah permisifisme di kalangan remaja. Remaja telah salah kaprah memaknai demokrasi dan kebebasan. Kebebasan hanya diambil kulitnya, tidak pada esensinya yang bertumpu pada kebebasan berkarya dan berkreasi.

Latar KALAM CINTA adalah UIN Ciputat. Saya mengisahkan perjalanan seorang mahasiswa, Jony Kesiangan, yang tetap semangat walaupun dalam keadaan kekurangan. Ia mengisi harinya menjadi operator komputer di Rentalan dengan tidak melupakan idealismenya pada pemberdayaan diri bagi kebahagiaan orang tua dan kebaktian di tengah-tengah masyarakat.

Di sini, masa-masa perkuliahan, termasuk fisik dan ruh UIN, saya kupas cukup detail. Dengan harapan KALAM CINTA bisa sedikit menjadi panduan belajar. Saya kupas di sini prinsip-prinsip menjadi jeniusnya Leonardo Da Vinci. Bagi saya itu adalah kunci bangsa dan generasinya bisa menjadi besar tanpa harus kehilangan kebahagiaan.

Saya juga membongkar pemaknaan ikhlas yang selama ini membelenggu. Ikhlas adalah berupaya untuk menjadi lebih baik. Kebahagiaan adalah dengan terus berproses tanpa final. Sedikit disampaikan di sini pertentangan Qadariyah dan Jabariyah dengan fokus terus berupaya dalam koridor kepasrahan hasil-upaya sebagai hak mutlak Tuhan.

Demikian kilasan KALAM CINTA. Insya Allah akan diterbitkan oleh Penerbit REPUBLIKA. Doain supaya cepat terbit ya….. Mohon doa supaya jadi bestseller. Hihik… jangan lupa beli, sekalian kabari teman-teman.

Tentang Saya.
Saya Ali Sobirin el-Muannatsy (Mas Also), kelahiran Tegal ’76. Alumni UIN Ciputat. Sekarang saya aktif di P3M di Jaringan Islam Emansipatoris mengurusi Buletin Jum’at an-Nadhar dan rubrik Hikmah www.islamemansipatoris.com. Selain itu juga saya mempunyai pengajian Majelis Tafkir. Majelis Tafkir sudah mendokumentasikan Untaian Hikmah-nya ke dalam bentuk CD (audio mp3) yang sudah dikumandangkan menjelang Maghrib di beberapa radio komunitas (Rakom) di daerah. Seperti Surabaya, Lumajang, Lamongan, Pasuruan, Pacitan, Tulung Agung, Blitar, Sumenep Jawa Timur; radio komersil di Brebes, Cilacap, Magelang, Pekalongan, dan Pati Jawa Tengah; Bandung Jawa Barat, dan Samarinda Kalimantan Timur.

Tnx.
Ali Sobirin el-Muannatsy (Mas Also)

Wednesday, March 08, 2006

Agama Kontekstual

SAAT ini kondisi keberagamaan umat sangat memprihatinkan. Dalam memahami ajaran agama, umat beragama telah terjebak dalam bingkai formalisme ajaran. Ajaran-ajaran agama cenderung hanya dipahami pada aspek ritual-formalnya, sedangkan ajaran agama yang sangat prinsipil terkubur oleh hiruk-pikuknya ritualitas. Agama diposisikan sedemikian rupa di pucuk menara yang sangat tinggi sehingga agama tidak mampu melihat dan merasakan hampa-ran masalah kemanusiaan. Agama telah terdistorsi pada sisi ibadah ketuhanan (mahdhah) semata, sementara sisi sosial (mu’amalah) dari agama tersingkirkan.

Agama dipahami hanya sebatas urusan manusia dengan tuhannya. Ketakwaan seseorang tidak dilihat pada sejauh mana seseorang membela kemanusiaan, tapi hanya dilihat pada sejauh mana orang itu rajin melak-sanakan shalat, haji berkali-kali, puasa senin-kamis, dan seterusnya. Ukuran keshalehan di dalam masyarakat tidak dilihat pada keadilan sistem kemasya-rakatan, tapi hanya dilihat pada sejauh mana masyarakat berbondong-bondong meramaikan hari-hari besar agama.

Akibatnya, agama menjadi buta, bisu dan tuli. Agama tidak mampu berkomunikasi dengan sejarah kemanu-siaan. Agama menjadi tumpul bagi penyelesaian berbagai masalah yang muncul di tengah-tengah kemanusiaan. Kemiskinan, kebodohan, tirani dan penindasan, dan kesenjangan sosial tidak kunjung terentaskan tapi justru semakin menguat di tengah-tengah umat beragama. Agama, yang semestinya hadir di tengah-tengah kemanusiaan untuk menjadi problem solver terhadap berbagai masalah yang muncul, tapi yang terjadi adalah sebaliknya. Agama menjadi eksklusif dan umatnya pun menjadi sektarian. Tak pelak, agama justru menjadi pemicu tumbuhnya bibit-bibit permusuhan antarmanusia. Akhir-nya misi agung rahmatan li al-‘alamin dari agama yang didengung-dengungkan di tiap khutbah dan tabligh akbar menjadi slogan kosong.

Dalam konteks ini, melahirkan pemahaman keagamaan yang bermuara pada kemanusiaan menjadi keniscaya-an. Dimensi kemanusiaan yang tercera-but dalam doktrin keagamaan harus segera ditanamkan kembali. Ajaran dasar agama: keadilan, kemerdekaan, dan persamaan; harus segera diwujud-kan. Agama harus segera dihadirkan untuk memberikan pencerahan terhadap berbagai problem kemanusiaan. Agama harus dikembalikan posisinya di tengah-tengah sejarah kemanusiaan. Agama harus segera diterjemahkan untuk menjawab berbagai problematika kemanusiaan.*

Tuesday, February 28, 2006

About Me

Name : Ali Sobirin
Location : Jakarta, Indonesia